8.8.17

Daun Musim Gugur dan Angin Musim Semi


Aku adalah angin, dan kamu adalah sepucuk daun musim gugur.
Di antara sekian banyak daun di musim semi,
kamu adalah daun musim gugur.
Tetapi angin datang tanpa mengenal musim.
Begitulah kita bertemu.
Tanpa saling sapa.
Ah... Jangankan bertegur sapa.
Menatapmu pun aku segan.

Aku adalah angin, dan kamu adalah
sepucuk daun musim gugur
yang tumbuh di musim semi.
Aku si angin,
datang dengan hangat,
namun kamu si daun,
Tetap dingin.
Tak bergeming.

Kemudian membuatku bertanya-tanya,
"Mungkinkah si daun musim gugur keliru menumbuhkan diri,
Ataukah si angin
telah
menyapa
daun
yang
Salah?"

31.7.17

I'm not that kind of person

It's been quite long since my last post here. Well, i was hardly manage my time between thesis, social life, and sleep hahaha. Sorry. Yet not much people want to read my posts tho.

On July 6th I had my thesis defense and that was uh... bad actually. All the answer I had prepared the night before were gone to everywhere but my brain 😂
Sedih sih karena itu dilihat sama dosen pembimbing daku.... Tapi itu dah lewat sih jadi yaaa.... ya sudah.

Kemudian masa-masa revisian yang lamaaaa banget hampir sebulan pun sudah berakhir. 53 poin pertanyaan dari dosen penguji sudah terjawab dan lembar pengesahan sudah ditandatangani. Yes!

Yudisium bulan Juli tentu saja telah terlewat olehku. Karena hari ini hari yudisium, and I haven't printed my thesis yet. Yah. Gue ikut yudisium bulan Agustus, walaupun dosen pembimbing yang baiknya minta ampun udah sampe nelfon, ngechat, menyemangati tiada henti supaya gue yudisium bulan Juli.

Tapi ya emang dasar keras kepala sih ya, Pak, anak bimbinganmu ini. Kalo udah menetapkan hati ya susah diganggu gugat.
Beberapa temen berusaha sampe sakit lelah capek dan sebagainya demi yudisium bulan Juli. Kenapa gue enggak? Karena I'm not that kind of person. Kenapa orang lain sebelum sidang nyari-nyari temen yang pengujinya sama kemudian minta list pertanyaan sidang sedangkan gue enggak? Because I'm not that kind of person. Ada temen yang membuat abstrak berdasarkan abstrak jurnal yang diterbitkan jurusan. Kenapa gue nggak kepikiran kayak gitu? Yea, I'm not that kind of person.

Jangan bilang gue bego plis, bilang aja gue agak naif 😂😂😂

Kenapa cewek lain kalo sama cowok bisa jaim sedangkan gue enggak? Yah... kalo yang ini emang salah sih. I'm still trying to be that kind of person.

Jadi poin dari post ini apa?
Cuma mau bilang aja, kamu nggak bisa memaksa dirimu jadi seperti orang lain secara nggak natural. Bisa sih kalau secara natural, tapi harus diawali dari "Ih gue butuh jadi kayak dia nih." Nah, kebutuhan itulah yang mendasari perubahan. Kalau kamu nggak butuh, apa iya kamu akan berubah? Harus sadar dulu baru bisa berubah. Kalo nggak sadar-sadar, hmm... coba siram air.

20.3.17

Everybody's Changing

Setelah segala macam revisi bab 1-3, produk LKS dan RPP, lembar validasi ke dosen ahli, akhirnya gue memutuskan untuk menulis lagi di sini. Yah... walaupun nggak banyak yang bisa gue ceritain, selain kesibukan skripsi, main Disney TsumTsum, dan acara di komunitas One Piece lovers. IYA. One Piece lovers. One Piece yang kartun bajak laut itu. Ada masalah? :)

Komunitas itu sebenernya orang-orangnya "gue banget". Lucunya, gue merasa agak aneh ada di tengah-tengah orang yang sebenernya "gue banget", sedangkan gue udah bukan gue yang dulu. You know.... everybody's changing. Entah itu disadarinya atau engga. Gue sadar gue berubah. Nggak se-petakilan, se-cablak, dan se-blak-blakan dulu. Iya, sebenernya itu gue banget, dulu. Sekarang udah lain. Kadang gue takut orang-orang di sekitar gue nggak bisa menerima gue yang sekarang. Temen-temen deket gue, misalnya....

Back then, ada seorang adik tingkat nanya ke gue, "Mbak, ini udaranya lagi panas loh. Kamu nggak kepanasan apa, pake baju sama kerudung kayak gitu?" And I thought, "My God!!!! This question is the same question I whispered in my heart about three years ago." Gue sama sekali nggak nyangka kalo pertanyaan itu ternyata balik juga ke gue. IYA. Gue juga bertanya-tanya hal yang sama pas liat mbak-mbak berjilbab besar dan bergamis, dulu, pas gue masih hobi pake celana jeans. "Emangnya mereka ngga kepanasan ya? Itu jilbab tebel banget gitu pula." Amazingly, no. Gue nggak kepanasan sama sekali. Aneh ya? Iya. Gue juga merasa aneh... Tapi waktu itu gue sadar, dan gue ngomong ke diri gue sendiri, "Elo tuh udah bukan elo yang dulu di beberapa hal. Tapi masih tetep elo di beberapa hal yang lain." Some things are meant to be changed, but some others meant to be still the same.

Balik ke komunitas yang di awal gue ceritain, gue sebenernya shock sih ketemu dan mengenal mereka yang dateng dari berbagai latar belakang, pekerjaan, kesibukan, sifat, dan tingkah yang beragam banget menurut gue. Disuruh kerja bareng mereka selama kurang lebih 5 bulan ternyata lumayan menguras hati wkwk. Iya, hati. Selama ini gue jarang ada kesibukan sama anak-anak luar kampus. Biasanya kalo sekampus kan kurang lebih ya pemikirannya sama lah kira-kira. Beda dikit-dikit doang. Lah ini. Kenal baru bentar, kadang makan hati juga wkwk.

Tapi setelah acara selesai.... "Damn. Acara kita udah selesai nih? Seriusan? Kok berasa ada yang hilang ya?"

Bener kata orang, bahwa kita bis menghargai sesuatu jika sesuatu itu pergi...

Yang gue suka dari orang-orang ini adalah mereka nggak ngomong yang macem-macem ke gue yang baru belajar untuk hijrah ini. Mereka nggak komentar miring tentang gue, nggak nge-judge gue juga misal kayak "Eh elo kan udah berjilbab gede, kok lo masih mau sih dibonceng cowok?" gitu.

Di masa-masa usia gue sekarang ini gue sadar, bahwa gue akan banyak ketemu sama temporary people. Orang-orang yang datang dalam hidup gue, tapi cuma bentar, mereka akan pergi dan gue nggak tau kapan bakalan bisa ketemu mereka lagi. Ya, sekali lagi, everybody's changing. Elo gak bisa menuntut temen lo untuk berpikiran dan bertingkah sama kayak dia yang lo kenal 5, 4, 3, 2, atau 1 tahun lalu. Karena perubahan nggak kenal waktu.

29.12.16

Ketika Hati Terjatuh

Benda terjatuh karena gravitasi
Hati terjatuh karena kamu, dan Dia yang menciptakan kamu

Benda terjatuh maka harus dipungut
Lalu bagaimana jika hati "terjatuh"?
Apakah dia bisa bangkit sendiri?
Bisa.

Terjatuh atau tidak, itu Tuhan yang mengatur. Bisa bangkit atau tidak, Tuhan pula yang mengatur.
Lalu aku harus apa jika hati terjatuh?
Sedangkan hati tidak tahu apakah jatuhnya kali itu baik
ataukah buruk
Membawa cerita
atau membawa derita
Hati tidak tahu

Yang dia tahu hanyalah

dia telah terjatuh.

27.10.16

Tentang Donquixote Doflamingo Kecil

Hari ini sebenernya gue ada janji buat ngerjain proposal skripsi di perpustakaan Pascasarjana sama temen gue, Dita Aldila Krisma. Tapi berhubung gue bangun kesiangan, akhirnya jam segini baru beres mandi. Dan tiba-tiba gue pengen nulis, tapi belum pengen nulis skripsi wkwkwk. 

So, in this post I would like to write about a character I know in One Piece. Who doesn't know or never heard this anime/manga? I think dudes who born in 90s and before know this adventure anime. Ya, this is about one antagonist character in One Piece, Donquixote Doflamingo a.k.a Doffy or Mingo (as Luffy likes to change a person's name).

I wonder how could someone be that wicked, cruel, rude, and all the bads in him.

Doflamingo adalah sosok yang amat sangat keji, tegaan, jahat, dan bisa dibilang dia tidak punya hati. Tapi hey, semua orang memiliki hati kecil yang tetap menyimpan kebaikan walaupun hanya secuil. Mungkin masa lalu lah yang mematikan hati kecilnya Doflamingo.

Doflamingo adalah keturunan Tenryuubito. Ya, jadi Tenryuubito adalah sekumpulan orang yang merajai dunia. Tenryuubito bergerak dengan nama World Government, dimana World Government adalah penggerak Marine (Angkatan Laut). Tenryuubito dan keluarganya memiliki tabiat yang buruk. Mereka senang menindas rakyat kecil, dan suka menyiksa budak-budak yang mereka beli dengan harga mahal. 

Ayah Doflamingo adalah salah satu anggota Tenryuubito, dan setiap anggota Tenryuubito diberikan satu kerajaan untuk dipimpin. Namun, ayah Doflamingo memutuskan untuk keluar dari Tenryuubito dan ingin bergaul dengan penduduk biasa. Ia ingin mengakhiri hidup sebagai orang yang menyiksa orang lain. 

Namun, Doflamingo yang sudah terbiasa hidup serba ada dan serba enak nggak bisa menerima hal itu. Dia yang masih kecil sudah terbiasa memegang pistol, memiliki kemauan yang keras, akhirnya tidak tahan dengan perlakuan orang-orang yang memusuhi bahkan ingin membunuh keluarga mereka. Keluarga Donquixote mengamankan diri mereka jauh dari penduduk desa, dan pada suatu hari, ibu Doflamingo sakit yang akhirnya menyebabkannya meninggal. Doflamingo menyalahkan ayahnya atas kejadian ini. "SEMUA GARA-GARA KAU! IBU JADI MENINGGAL!" begitu ia teriakkan kepada ayahnya.

Tidak lama setelah itu, penduduk desa menemukan tempat persembunyian ayah Doflamingo dan kedua anaknya yang masih kecil. Penduduk memasung mereka di sebuah dinding besar. Mereka akan mengeksekusi keluarga yang tinggal terdiri dari 3 orang itu dengan cara memanahnya. Namun sebelum Doflamingo tertusuk panah yang melesat, semua orang pingsan tak sadarkan diri karena Haohshoku no haki yang dimiliki Doflamingo. Akhirnya mereka turun dari dinding tersebut. Namun kemudian Doflamingo yang masih marah kepada ayahnya, memutuskan untuk membunuh ayahnya dengan pistol yang sudah terbiasa ia gunakan. Ia menembak ayahnya yang tersenyum dan mengatakan, "Maafkan aku, Doffy..." di depan adik laki-lakinya, Rosinante.

Begitulah masa kecil Doflamingo. Ia bukannya tidak memiliki hati nurani atau hati kecil, tetapi masa lalunya lah yang telah merenggut hati yang dimilikinya. Anak kecil seharusnya dididik dengan baik dan penuh kasih sayang. Gimana bisa seorang anak jadi anak baik kalau dalam hidupnya terbiasa melihat orang menembakkan pistol, menyiksa budak, dan lain sebagainya? Gue rasa itu bukan salah Doflamingo. Itu salahnya dunia, dunia dia yang penuh dengan orang jahat. Doflamingo adalah hasil didikan dari dunia yang penuh dengan kekerasan, baik psikis maupun fisik. Sehingga ketika dunia itu bertemu dengan karakter bawaannya yang memang keras, yah.... Hal apa pun bisa terjadi, baik ataupun buruk.

Begitulah. Posting kali ini adalah sekadar pengingat aja, terutama buat diri gue sendiri, bahwa karakter seseorang adalah hasil dari pendidikan yang ia dapat di dunianya. Kalau dunianya penuh dengan caci maki, dia akan terbiasa mencaci maki orang lain. Kalau dunianya penuh dengan kasih sayang, dia akan terbiasa menyayangi orang lain. Gitu.